Mendes Ajak Pengusaha Ungas Masuk Ke Model Bisnis Prukades

JAKARTA - Dalam dunia usaha, perubahan adalah keniscayaan. Apalagi di era Revolusi Industri 4.0 perubahan terjadi lebih cepat. Hal tersebut harus dibarengi dengan inovasi dan cepat menangkap peluang supaya bisa terus mengikuti perubahan.

"Gabungan Pengusaha Pembibitan Unggas (GPPU) juga pasti bisa menghadapi perubahan asal punya bisnis model yang jelas. Saya ajak GPPU untuk masuk di peluang-peluang model Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades)," ujar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo dalam Kongres XII GPPU dengan tema "FGD GPPU Menghadapi Tantangan Nasional, Regional, Global 'Siapkah?" di TMII, Jakarta (26/7).

Menteri Eko melanjutkan, bisnis model Prukades ini bisa menciptakan tenaga kerja di desa. Dirinya mengasumsikan jika angkatan kerja di desa bisa menghasilkan Rp 2 juta saja, maka dalam satu bulan akan ada perputaran finansial mencapai Rp 2 Triliun. Jika Rp 1.000 Triliun dalam satu bulan, maka akan tercipta 12.000 Triliun dalam satu tahun.

"Silakan GPPU kalau masuk, buat model kemitraan, bikin rumah potong, bikin desa wisata yang menawarkan makan ayam. Kerjasama juga dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk bikin kafe-kafe di tengah sawah seperti di Pujon Kidul. Bikin desa wisata dengan menu makan ayam, wisata ayam dan sebagainya yang akan meningkatkan konsumsi ayam. Manfaatkan kesempatan pembangunan di desa," ajaknya.

Sementara itu, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian, Sugiono mengatakan, GPPU adalah salah satu pejuang protein hewani Indonesia. Dirinya pun meyakini kondisi perunggasan di Indonesia dalam kondisi sehat.

"Ekonomi akan turun kalau peternak hancur. Tidak apa-apa harga mahal, pedagang untung, masyarakat beli, daripada harga murah dan tidak ada yang beli," ujarnya.

Ketua Umum GPPU Krissantono meyakinkan bahwa organisasi ini tidak mungkin menghadapi dan memikul beban sendiri. Sinergi dengan pemerintah diperlukan untuk menjawab segala tantangan yang ada.

"Kita perlu Pak Mendes karena peternak-peternak ada di desa. Siapa tahu ke depan ada kerjasama yang terjalin," kata Krissantono.